monggo

only if you needed

Kamis, 21 Februari 2013

Pro and Contra about Clonning


When Dolly, the first cloned sheep in the news, the more prominent the cloning controversy. Not only researchers, the general public became interested in knowing how to do and get involved in the cloning of the pros and cons. Here are the pros and cons of cloning are not finished being debated today.

Pro Cloning
Cloning has the potential to bring desired changes in an individual's genetic makeup. Through cloning, genetic traits can either be promoted while the negative attributes can be eliminated. Cloning can also be applied to plants to remove or change the defective genes that make plants more resistant to disease. Cloning can also be applied to create human organs so as to be independent from the donor organ. Here we will look at the potential benefits of cloning.
1. Replacement organs
Cloning of the body serves as a savior. When body organs such as the kidneys or heart is damaged, it is possible to replace it with the cloned organs.
2. Replace natural reproduction
Cloning in humans may be a solution to infertility. Cloning can serve as an option for producing children. With cloning, it is possible to produce desirable traits in an individual.
3. Help in genetics research
Cloning technology could potentially help in genetics resource. Genetic elements of human cloning allows engineered so that makes gene analysis. Cloning also helps in the fight against genetic diseases.
4. Getting the special nature of the organism
Cloning allows us to obtain the organisms that are tailored to the interests of a society.

Cons Cloning
Although cloning is a miracle in the field of genetics, there remains a potential for harm. Cloning is the process of copying or replicating the biological nature of the organism.
It certainly could reduce the diversity in nature. In addition, some people are still skeptical about whether cloning is able to realize all the potential into reality.
Here are a few points about the disadvantages of cloning.
1. Adverse genetic diversity
Cloning creates an identical genes. This would make a loss of diversity in a population. Diminishing diversity will undermine an organism to adapt.
2. Potential malpractice
Cloning still has a chance of failure. Failure cloning organs, resulting in malpractice risk.
3. Affordability
Cloning organs for transplantation would require high technology and big cost.
4. Seize the power of God
Cloning will be risking human rights. Is it morally and ethically cloning be allowed? It will make people capable of creating man. Is cloning will not devalue humanity? Is cloning will occupy most of the power of God?

Conclusion
As mentioned above, cloning will provide many benefits to human life. Conflicts also continue to appear along with the development of cloning technology. Many parties are strongly opposed to this effort as contrary to religion and the high risk of human cloning efforts.
In essence, we required the application of the appropriate application of cloning technology. We need to consider is the essence for a wider public after cloning technology is applied. For example, to produce products with good quality livestock, cloning technology to do a particular cattle, then the application should not be applied because the clones will not cause major problems in human life and human benefit. What is clear, cloning technology can’t be applied to humans, because humans are social beings, which means that if implemented would lead to a variety of questions. After people clonned, people are not going to live humanely, but will live with human happiness is not complete in general, such as happiness living with a parent, healthy life without disability, socialize normally, and others. Cloning technology in humans is still a lot of factors to failure. Human life is not for sale, so the tool test subject, or sacrificed for technological advances that benefit from its application is still unclear for the future. The continuation of human cloning should be dismissed, because it clearly is not humane treatment.
One thing we need to remember is one sentence ever uttered by Albert Einstein, "science without religion is lame and religion without science is blind. "


Jumat, 19 Oktober 2012

Tantangan Gereja

Tantangan Gereja
Sejak Gereja itu lahir, Gereja tidak bisa dipisahkan dari berbagai macam tantangan hidup, baik dari dalam, maupun dari luar
a.       Dari dalam
Ø  Bagaimanakah Gereja menghadapi budaya yang berbeda di lingkungan mereka?
Ø  Kapan tepatnya Tuhan Yesus akan datang kembali?
Ø  Apa yang harus dilakukan oleh orang-orang percaya dalam menanti kedatangan Tuhan Yesus yang ke-2?
Ø  Benarkah Tuhan Yesus sendiri yang disalibkan?

Tantangan Gereja di zaman Modern
Banyak aliran dalam Gereja Kristen
Menurut Dr. Jan Aritonang. Ada berbagai macam Aliran Kristen seperti
Ø  Gereja Lutheran Calvinis (GKJ, GKI, GPIB, HKBP, GKJW)
Ø  Baptis (methodis)
Ø  Pentakosta (karismatik)

Perkembangan Gereja di Zaman Modern

Perkembangan Gereja di Zaman Modern
      Perkembangan Gereja di zaman modern ini tidak bisa dilepaskan dari perkembangan IPTEK, sehingga menempatkan gereja di situasi yang ambivalen. Artinya Gereja di satu sisi tidak bisa menolak perkembangan dunia yang semakin maju. Bahkan gereja harus mengambil bagian di dalamnya untuk meningkatkan misi pelayanan bagi dunia. Tetapi di sisi lain, Gereja diancam oleh segala dampak negatif perkembangan IPTEK.
      Di abad yang ke-21 ini, kebangkitan agama-agama merasa prihatin dengan munculnya sifat-sifat masyarakat yang ter-demoralisasi, ter-dehumanisasi. Isu-isu pokok yang dialami Gereja pada zaman ini, Gereja tidak bisa tinggal diam. Namun sebaliknya, Gereja harus menjadi hamba yang melayani demi pewartaan Kristus. Dengan situasi seperti ini, Gereja tidak menutup diri namun harus terbuka dan berupaya untuk menjawab berbagai pertanyaan yang ada di tengah-tengah dunia.
      Karena semakin kompleks masalah tersebut, maka Gereja perlu mengembangkan dan memperlengkapi diri dalam menjalankan panggilannya di dunia, yang bersaksi, melayani dan bersekutu [ Roma 13:6-7 | 1 Petrus 2:13, 14 ]

Perkembangan Gereja di Indonesia

Perkembangan Gereja di Indonesia
Gereja masuk di Indonesia sekitar tahun 1511 saat para pedagang dari Portugis muncul di perairan Jawa dan Maluku. Saat datang di Indonesia, pedagang Portugis tidak mendapat dukungan di Jawa. Hanya di Maluku atau Halmahera. Namun sewaktu Kerajaan Ternate semakin besar, yang sebagian besar memeluk agama Islam, Portugis terdesak. Akhirnya Portugis diusir dari Indonesia. Kecuali di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang saat itu dikuasai Belanda.
Sama halnya dengan orang Portugis,orang Belanda yang datang ke Indonesia, ia ingin menguasai jalur perdagangan khususnya rempah-rempah di Idonesia. Penyebaran Agama hanyalah tujuan sekunder. Mereka mendukung penyebaran Gereja sejauh usaha itu membawa keuntungan baginya. Misi hanya terbatas ke dalam. Yakni Gereja Benteng. Yang terbatas pada orang-orang Kristen dan dilayani oleh Pendeta-pendeta Belanda. Namun setelah VOC hancur, Gereja tidak dapat mempertahankan diri. Pelayanan Gereja menjadi terbengkalai
 

Gambaran Gereja

 Gambaran Gereja
            1. Gereja digambarkan sebagai bangunan Allah
            [ 1 Korintus 3:9 | 1 Korintus 3:16-17 | 2 Korintus 6:16 | Efesus 2:20-22 | 1 Timotius 3:16 ]
            Gereja di gambarkan sebagai bangunan Allah mengandung makna bahwa ide bangunan tersebut dipakai untuk menggambarkan keberadaan gereja yang mana Kristus sendiri merupakan batu penjuru dari bangunan ini
            2. Gereja digambarkan sebagai tubuh Kristus
            [ Roma 12:4 | 1 Korintus 12:12-17 | Efesus 1:22-23 | Kolose 1:18 ]
            Gereja digambarkan sebagai tubuh Kristus mempunyai makna sebagai berikut.
a.  Gereja sebagai tubuh Kristus berarti gereja tidak bisa dilepaskan dari hubungannya dengan Kristus di mana Kristus adalah sebagai Kepala Gereja.
b.  Gereja sebagai tubuh Kristus dipahami di dalam kerangka kesatuan dari berbagai anggota yang memiliki karunia yang berbeda-beda tetapi ada dalam 1 (satu) kesatuan.
c.  Gereja sebagai tubuh Kristus dipahami bahwa sebagai persekutuan sehingga setiap anggota terpanggil untuk mengutamakan kepentingan yang lainnya. Maka perlu hidup yang solider.
            3. Gereja digambarkan sebagai mempelai wanita
            [ 2 Korintus 11:2-3 | Efesus 5:24-25 | Yakobus 4:4 | Wahyu 19:7-8 | Yohanes 3:29 ]
            Gereja diharapkan senantiasa setia kepada Kristus yang digambarkan sebagai Pengantin Laki-Laki yang selalu siap untuk memasuki pernikahan kudus bersama Kristus.
            4. Gereja digambarkan sebagai kawanan domba Allah
            [ Yohanes 10:1-16 | Ibrani 13:20 | 1 Petrus 2:25 ]
            Gereja harus taat pada perintah Gembala Yang Baik (Yesus Kristus sendiri) dan bila tidak maka gereja akan tersesat hidupnya, sama seperti domba yang hilang
            5. Gereja digambarkan sebagai arak-arakan umat Allah menuju ke suatu tempat tertentu
            Gambaran ini mengacu pada perjalanan bangsa Israel dari Mesir menuju tanah Kenaan. Gereja juga digambarkan seperti arak-arakan umat Allah menuju ke tempat yang telah disediakan Tuhan yaitu di kerajaan surga.

Pemahaman tentang Gereja

Pemahaman tentang Gereja
Walaupun pada hakikatnya hanya ada 1 (satu), tetapi gereja dapat dipahami dalam 2 (dua) pengertian, yaitu sebagai berikut.
            1. Gereja yang Universal (Gereja di seluruh dunia)
            Gereja terdiri dari semua orang yang tersebar di seluruh dunia yang telah dibaptiskan di dalam Roh Allah menjadi anggota tubuh Kristus. Dengan demikian, setiap orang Kristen merasa sehati dan seperasaan dengan orang Kristen di mana pun yang berada di muka bumi ini
.
            2. Gereja Setempat
            Gereja yang dipahami sebagai kelompok orang-orang percaya yang berkumpul di suatu tempat tertentu. Di dalam Alkitab disebutkan adanya Jemaat di Roma, Jemaat di Efesus, Jemaat di Filipi, dsb. Dalam kehidupan selama ini, gereja setempat sering diwujudkan dalam denominasi gereja, seperti GKJ (Gereja Kristen Jawa), GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan), HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), GPDI (Gereja Pentakosta di Indonesia), GKSBS (Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan), dll.

Gereja sebagai Persekutuan

 Gereja sebagai Persekutuan
Gereja sebagai persekutuan digunakan oleh Allah sebagai alat dalam karya penyelamatan, yaitu untuk:
a.  Menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.
b.  Memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan.
c.  Memberikan penglihatan bagi orang-orang buta.
d.  Membebaskan orang-orang yang tertindas untuk memberitakan rahmat Tuhan. [Lukas 4:18-19]

Ciri gereja yang benar adalah suatu persekutuan yang ditempatkan Allah di dunia untuk melayani Allah dan manusia. Sehingga dengan adanya persekutuan, gereja harus melaksanakan tugas sebagai berikut.
     1. Bersekutu / Koinonia
     2. Melayani / Diakonia
     3. Bersaksi / Marturia
     4. Mengajar / Didaskien

Alasan gereja harus bersekutu adalah sebagai berikut.
1.    Persekutuan memang harus dijaga, dipelihara dan dipertahankan, supaya persekutuan benar-benar terwujud. Cara memelihara persekutuan adalah dengan:
a.  melaksanakan kebaktian, baik di gedung gereja, dalam keluarga, dalam -- kelompok-kelompok -- masyarakat,
b.  mengikuti sakramen, terutama sakramen baptis dan perjamuan kudus,
c.  melaksanakan penggembalaan (pastoral), dan
d.  melaksanakan disiplin gereja (diberi siasat/di-perdi).
2.    Gereja yang ada di dunia masih menghadapi berbagai macam masalah di:
a. dalam gereja,
b. luar gereja, dan
c. pemerintahan.

Di dalam persekutuan itulah, gereja harus juga melayani. Selain bersekutu dan melayani, gereja juga harus bersaksi supaya orang lain mengenal dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Selain itu, gereja juga harus mengajar seperti apa yang tertulis dalam 2 Timotius 3:16.

Di dalam persekutuan haruslah berlangsung hidup yang saling memperhatikan, menguatkan, mendorong, menasihati, dan menerima dan memberi. Makna persekutuan bagi orang-orang percaya yaitu antara lain sebagai berikut.

1. Gereja sebagai persekutuan, mereka harus mendayagunakan karunia-karunia yang ada sehingga tercipta persekutuan yang semakin indah.
2. Gereja sebagai persekutuan, memberi pada masing-masing pihak untuk mengakui dan menyatakan bahwa dirinya berbeda dengan orang lain.

Gereja sebagai Institusi Sosial

Gereja sebagai Institusi Sosial
Institusi Sosial berarti suatu perkumpulan, paguyuban, organisasi nasional, yang berkenan dengan masyarakat dalam kehidupannya. Gereja mempunyai institusi sosial karena secara sosiologi, Gereja dipandang sebagai persekutuan keagamaan orang Kristen yang terorganisasi, berkembang, dan berperan dalam masyarakat.
Sebagai institusi sosial, Gereja mempunyai sejarah dan struktur tertentu, serta memiliki rumusan kepercayaan visi dan misi, tujuan, dan nilai-nilai yang membentuk identitasnya, sehingga Gereja tidak berbeda dengan persekutuan / lembaga yang lain di dunia ini.

Gereja sebagai institusi sosial ini, juga didasari oleh apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Galati yang tidak boleh membakar bakaran antara Yahudi tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. (bdk Galatia 3 : 28)


Sifat-sifat Gereja

Sifat-sifat Gereja
1.      Adalah Besifat Persekutuan
Gereja digambarkan sebagai anggota keluarga Allah, sehingga Gereja harus selalu menempuh hidup persekutuan dengan Allah. Gereja yang bersifat persekutuan ini terpanggil untuk menghilangkan segala macam perbedaan yang ada, baik golongan, bangsa, etnis, jenis kelamin. Dalam Filipi 2 : 1, Gereja digambarkan sebagai persekutuan roh.

2.      Bersifat persekutuan kemuridan
Gereja adalah persekutuan orang-orang yang secara pribadi dan sukarela mengikatkan dirinya dengan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru SelamatNya. Merekka juga secara sukarela empelajari ajaran-ajaranNya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari

3.      Bersifat kudus (Qadosy)
Kata “Kudus” berasal dari bahasa Ibrani “Qadosy” yang berarti terpilih, dikhusukan, disendirikan untuk Allah.. Gereja adalah Kudus, Gereja telah dikhususkan, dipisahkan, disendirikan oleh Allah untuk kepentingan Allah agar Gereja senantiasa setia dan hidup berpegang pada perintah-perintah Allah. Kekudusan Gereja ditentukkan juga oleh kesetiaan Gereja untuk berpegang kepada perintah-perintah Tuhan (bdk Ul 28:9, Im 20:7, Mat 5:48)

4.      Bersifat sebagai arak-arakan umat Allah
Gereja digambarkan seperti perjalanan orang-orang Israel dari Mesir ke tanah Kanaan. Dalam hal ini, Gereja juga sebagai ?? umat Allah, menuju tanah yang dijanjikan Allah, yaitu Kerajaan Surga